fbpx

Price Earning Ratio Adalah Solusi Valuasi Saham Perusahaan

bagikan posting ini:

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Price Earning Ratio adalah solusi valuasi saham yang wajib diketahui oleh para investor. Dunia investasi adalah sebuah dunia yang penuh dengan risiko. Meski awalnya nampak menjanjikan, namun kondisi dapat berubah dengan cepat setiap saat. Di saat yang bersamaan, para penanam modal ingin memperoleh profit yang sebesar-besarnya. Risiko akan selalu ada. Kuncinya terletak pada cara mengelola risiko tersebut. Beragam cara pun telah dilakukan. Salah satunya adalah PER. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kurang lebih artinya adalah perbandingan antara value stock  dan pendapatan bersih sebuah perusahaan.

PER atau Price Earning Ratio adalah sebuah istilah dalam dunia keuangan dan investasi. Istilah ini merujuk pada angka-angka yang digunakan untuk melakukan analisis fundamental terhadap sektor keuangan sebuah perusahaan. Pada praktiknya di lapangan, penggunaan angka-angka ini biasanya bertujuan untuk membangun sebuah prediksi perihal harga saham milik perusahaan yang bersangkutan.

Cara Menghitung Price Earning Ratio

Dalam merumuskan PER, ada satu rumus yang umum digunakan oleh para analis keuangan. Rumus tersebut mendefinisikan PER sebagai hasil pembagian antara harga saham perusahaan dengan pendapatan per saham atau Earning Per Share (EPS).

Berkat adanya informasi ini, kita dapat mengetahui jumlah kelipatan dari harga saham perusahaan terkait saat ini dengan angka laba bersih yang diperolehnya selama satu tahun terakhir.

Mari kita ambil contoh, jika harga per lembar saham perusahaan P adalah Rp. 1000, dengan rasio EPS sebesar Rp. 20. Maka Rasio P/E adalah Rp. 1000/Rp. 20 = Rp. 50. Ini menandakan bahwa Investor bersedia untuk membayar Rp. 50, untuk setiap Rp. 1 pendapatan perusahaan. Bagi perusahaan yang mengalami kerugian atau pendapatan yang bernilai negatif, rasio P/E akan dinyatakan dengan “tidak ada” atau ditulis dengan “N/A “(Not Applicable).

Apa Itu Price Earning Ratio: Indikator Psikologis Pasar Saham

pengusaha memperdagangkan saham di kantor

Di sisi lain, PER juga dapat digunakan sebagai sebuah indikator kondisi psikologis pasar saham. Angka ini dapat membantu kita untuk mengetahui harapan serta persepsi pelaku pasar modal terhadap sebuah perusahaan dan harga sahamnya.

Singkat kata, PER mampu menjadi panduan kita dalam membeli saham. Informasi ini dapat menjadi rujukan ketika menilai tren perbandingan antara harga saham dengan perolehan laba bersih perusahaan terkait. Idealnya, apabila badan usaha tersebut mencatatkan tingkat keuntungan yang rendah, maka hal ini harus diikuti dengan valuasi saham yang rendah pula.

Pada perspektif yang lain, PER mampu menghindarkan kita dari kerugian trading di stock market. Hal ini dapat terjadi apabila data perdagangan menunjukkan harga stock sebuah emiten menunjukkan kenaikan, sementara rata-rata keuntungan per saham tercatat mengalami penurunan. Dalam kasus ini, PER menjadi instrumen yang bermanfaat dalam menghindarkan kita dari membeli saham tersebut.

Tak hanya itu, PER bahkan mampu membantu kita dalam membandingkan dua buah emiten. Sebagai calon investor, kita berhak memperoleh informasi yang akurat. PER mampu membantu kita dalam melakukan analisis terhadap kinerja perusahaan terkait. Meski keduanya memiliki kinerja yang kurang lebih sama, bisa saja harga saham keduanya mencatatkan nilai yang saling bertolak belakang. Berkat adanya PER, kita mampu mengetahui alasan sebenarnya di balik anomali tersebut.

Pengertian Price Earning Ratio: Cara Membaca PER

Pemahaman yang baik akan PER bisa membantu kita dalam menentukan nilai sebuah perusahaan. Sebagai calon investor, informasi semacam ini bisa menghindarkan dari membeli saham yang salah.

Adapun cara membaca rasio adalah sebagai berikut.

  • 7 – 9 -> Para investor secara umum mengalami kecemasan terhadap masa depan ekonomi
  • 10 -14 -> Para investor berada di tengah kebimbangan antara rasa cemas akan kondisi ekonomi saat ini, namun melihat adanya harapan terhadap pasar ekonomi.
  • 15 -18 -> Rasio yang tinggi menunjukkan tingkat laba yang tinggi pula. Hal ini berdampak pada peningkatan kepercayaan investor terhadap kondisi masa depan pasar ekonomi. Hal ini akan berdampak pada nilai saham yang lebih besar.

Secara umum, dapat dikatakan bahwa faktor PER mampu mempengaruhi tingkat optimisme investor. Tingkat kepercayaan investor tersebut mencakup baik jangka pendek, menengah, hingga relatif panjang.

Semakin rendah nilai PER, semakin rendah pula optimisme investor terhadap kondisi pasar ekonomi. Akibatnya, harga saham akan mengalami penurunan atau harga sahamnya semakin murah.

Sebaliknya, apabila nilai PER tinggi, semakin tinggi pula optimisme penanam dana terhadap kondisi pasar ekonomi. Hal ini disebabkan adanya kenaikan dari laba perusahaan. Dampaknya adalah terjadi peningkatan harga saham atau harga sahamnya menjadi mahal.

Menelisik Model Yang Membentuk PE Ratio

analisis pasar

Dalam dunia investasi, berlaku rumus berikut ini terkait pembentukan harga saham emiten.

Harga saham = Earning Per Share x PER

Atau dengan kata lain, price earning ratio adalah angka yang didapat jika harga saham emiten dibagi dengan laba bersih yang tercatat per lembar saham.

Apabila kita telisik lebih dalam, maka terdapat dua faktor yang mempengaruhi harga sebuah produk. Kedua faktor ini tercatat dalam artikel buah pikiran Hermain Simon dan Robert J. Dolan dalam buku mereka “Power Pricing”.

  • Faktor internal emiten yang mencakup keuntungan serta biaya operasional
  • Faktor eksternal emiten yang mencakup customer perceive value atau nilai persepsi konsumen.

PER dan Nilai Persepsi Konsumen

Jadi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan nilai persepsi konsumen? Berikut beberapa gagasan yang dikemukakan oleh beberapa pihak terkemuka di pasar investasi.

Stephen P. Robins beranggapan bahwa persepsi pada dasarnya adalah proses ketika seseorang melakukan upaya untuk memahami arti dari kejadian di sekitarnya. Tindakan tersebut dilakukan dengan menggunakan bantuan indera yang dimilikinya. Beliau juga menyatakan bahwa persepsi yang diterima tidak selamanya sesuai dengan kondisi nyata. Tak jarang, the truth is not the same with things you have in your perception.

Sementara itu, Mowen beranggapan berbeda. Beliau beranggapan bahwa persepsi merujuk pada suatu peristiwa tatkala insan manusia terpapar informasi serta memiliki kemampuan yang luas untuk memahami informasi tersebut. Informasi yang dimaksud termasuk informasi harga saham atau stock price serta pasar saham secara keseluruhan.

Di lain pihak, pendapat yang kurang lebih sama disampaikan oleh Kanuk dan Schiffman. Kedua tokoh ini berpendapat bahwa persepsi adalah cara yang dipilih oleh manusia untuk memahami beragam nilai atau hal yang terdapat di sekitar kita. Termasuk di antaranya harga saham atau stock price, profit ratio, email penawaran, kinerja perusahaan, kondisi pasar, dan lain sebagainya.

Ketika kita beranjak menuju persepsi konsumen, maka ada beberapa hal yang perlu kita ketahui. Hal – hal ini termasuk cara konsumen mempersepsikan kinerja perusahaan, saham, dan beragam informasi penting lainnya.

Berikut informasi penting tersebut.

  • Kinerja perusahaan di masa lalu. Informasi ini bisa digunakan sebagai rujukan untuk melakukan pembelian saham di masa kini maupun di masa depan.
  • Harapan konsumen terkait kinerja perusahaan di masa mendatang. Hal ini juga akan turut mempengaruhi harga saham emiten terkait di pasar modal.
  • Informasi lainnya terkait perusahaan, seperti laba bersih, earning ratio, dan beragam informasi lainnya. Informasi ini dapat mencakup baik informasi yang berasal dari dalam maupun luar perusahaan itu sendiri.

Berdasarkan informasi ini, dapat kita simpulkan betapa erat kaitan antara earning and price ratio dengan kinerja emiten. Hal yang ditinjau terutama kemampuan dalam membukukan laba atau keuntungan bersih. Kedua faktor lainnya adalah harapan atau ekspektasi yang dimiliki konsumen terhadap perusahaan tersebut maupun beragam informasi terkait perusahaan tersebut.

Kinerja emiten

Kinerja emiten merupakan salah satu informasi penting bagi pasar. Informasi ini selalu tersedia sepanjang emiten masih beroperasi. Konsumen dapat dengan mudah melihat riwayat kinerja emiten dengan melihat riwayatnya, termasuk earning ratio hingga kondisi saham perusahaan.

Salah satu sumber informasi yang tidak boleh dilewatkan adalah laporan keuangan. Laporan ini umumnya diterbitkan oleh pihak emiten dalam kurun waktu setidaknya 3 bulan sekali. Laporan ini mencakup beragam informasi penting seperti rasio pajak, rasio biaya produksi, performa penjualan, laba rugi, harga saham, dan lain sebagainya.

Sebagai instrumen keuangan yang melibatkan publik, tidaklah aneh kiranya ketika PER mendapatkan banyak pengaruh dari performa emiten terkait. Semakin baik performa yang ditunjukkan kepada masyarakat selaku konsumen, maka persepsi yang dimiliki pasar akan lebih baik. Hal ini akan berujung pada kondisi saham yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Ekspektasi Pasar

Faktor terkait persepsi yang turut berdampak pada price earning ratio adalah ekspektasi pasar. Secara sederhana, ekspektasi ini muncul karena pemegang saham pada dasarnya akan selalu berharap bahwa tempat mereka menanamkan sejumlah modal akan selalu menghasilkan keuntungan.

Setidaknya terdapat empat alasan yang pada akhirnya akan memunculkan ekspektasi ini.

Pengalaman Sendiri

Apabila penanam modal memperoleh kesan yang baik di masa lalu terkait performa bisnis emiten, maka hal yang sama akan diharapkan terulang kembali di masa kini. Hal ini cukup beralasan. Tidak ada penanam modal yang ingin mengalami kerugian. Semua konsumen, baik dari kalangan bisnis maupun masyarakat awam, tentunya berharap profit sebesar mungkin dari saham yang mereka miliki.

Pengalaman Orang Lain

Selain pengalaman sendiri, pengalaman orang lain juga turut menjadi faktor lahirnya ekspektasi konsumen tersebut. Pengalaman orang lain kerap dianggap sebagai bahan pelajaran yang berharga. Alasannya sederhana, pasar modal adalah sebuah tempat yang tinggi risiko. Konsumen akan mencoba meminimalisir risiko ini dengan beragam cara. Salah satunya adalah belajar dari pengalaman orang lain. Dengan cara ini, mereka berharap dapat memperoleh profit paling optimal dari setiap modal yang mereka keluarkan untuk membeli saham. Bisa dikatakan hal ini merupakan insting alami penanam modal setelah membayar sejumlah harga untuk mendapatkan instrumen penanaman modal tersebut.

Komunikasi Dengan Pihak Luar

Sebagai sebuah pelaku bisnis, perusahaan akan melakukan segenap upaya untuk mengembangkan bisnis mereka. Salah satunya adalah menyajikan materi-materi atau strategi-strategi yang dianggap mampu menarik perhatian dari para calon penanam modal dengan harapan mereka menanamkan modalnya. Dengan cara ini, emiten dapat memperoleh suntikan dana dalam jumlah besar. Dampaknya jelas. Emiten akan mampu meningkatkan performa usaha dan akan berdampak pada keuntungan yang semakin besar bagi semua pihak.

Kebutuhan Pribadi

Ketika bertindak, konsumen dapat bertindak atas pertimbangannya sendiri maupun setelah belajar dari pengalaman orang lain. Ada kalanya, penanam modal memiliki niatan atau kebutuhan pribadi. Kebutuhan ini umumnya bersifat spesifik. Tatkala kebutuhan ini berkembang menjadi sesuatu yang lebih tinggi, maka hal ini akan turut berpengaruh pada ekspektasi yang lebih tinggi pula. Biasanya hal ini tidak akan jauh-jauh dari harapan bahwa emiten akan mampu menghasilkan profit yang lebih besar dalam kurun waktu yang diharapkan.

Demikianlah informasi terkait rasio antara valuasi saham dengan laba bersih perusahaan yang dapat kami sajikan. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda sekalian. Kami berharap informasi yang kami berikan dapat bermanfaat bagi aktivitas trading Anda.

Sumber Daya Tambahan

More To Explore

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *